“Bacalah
Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat sebagai syafaat (penolong)
pembacanya” (HR Muslim)
| Kang Zae membuka sesi |
Al Qur’an sebagai petunjuk
dan rahmat dari Allah Swt senantiasa menjadi bacaan dan amalan dalam keluarga
muslim. Tetapi untuk membacanya dengan baik sesuai kaidah tajwid haruslah
dipelajari oleh setiap muslim. Dan, salah satu pintu untuk mempelajari Al Qur’an
dengan baik diperkenalkan oleh Komunitas Cinta Qur’an dalam acara Gema salimah
pada 26 hingga 27 Maret 2016 lalu. Acara yang didukung oleh Dompet Dhuafa ini
berlangsung dengan baik di aula balai diklat keagamaan Paniki Manado.
Dalam kesempatan
tersebut, pamateri ustadz Zaenuddin dan ustadz Asep Sumantri berbagi ilmu
kepada seluruh peserta yang datang dari berbagai tempat di Manado dan Sulawesi
Utara. Metode yang digunakan adalah metode Tahrir yang diklaim sebagai Metode
Super Cepat dan Super Mudah Belajar Membaca Al Qur’an.
Supaya peserta fokus dalam
pengajaran yang berlangsung anatara 5 hingga 6 jam, maka di awal pemaparan
disepakati aturan main. Ada empat aturan main yang harus ditaati peserta. “Mengubah
moda HP menjadi hening (silent), fokus pada materi, ikut terlibat dan merasa
senang dalam mengikuti kelas pelatihan,” ringkas Kang Zae sapaan untuk ustadz
Zaenuddin.
Metode
Tahrir
| Ustadz Asep menjelaskan Metode Tahrir |
Masuk pada pengajaran,
tampillah ustadz Asep yang memamparkan mengenai hak-hak dari Al Qur’an. “Pertama,
diimani, dipelajari, dibaca, dipahami, diamalkan, diajarkan, dan didakwahkan,”
ujar alumnus Mah’ad Al Azhar ini. Kemudian ia lanjutkan dengan pengajaran cara
melafalkan huruf hijaiyah melalui cerita singkat dan menarik, yakni lewat
cerita seorang dara.
“Tsaya Roza Zhohana,
Tamaysa Ka Qota Adza, Bawa Shofa, La Kho Atho Ghoda, Dho’a Sahaja,” tuturnya
yang disambut senyum simpul audien. Dari penjelasan awal ini makin meyakinkan
peserta bahwa mempelajari Al Qur’an bukanlah sesuatu yang sulit. Apalagi
setelah kang Zae melagukan bait hijaiyah tadi ke dalam irama “Balonku ada Lima”.
Awalan yang menarik ini mampu membuat para muslimah sanggup bertahan hingga
sesi akhir.
Lanjut dari pengantar
Roza Dzohana, ustadz Asep meneruskan dengan pengajaran “Makhrojul Huruf”. Untuk
memudahkan pemahaman, disajikan skema mulut dan tenggorokan lengkap dengan
tempat keluar huruf. Kemiripan bunyi, misalnya pada huruf jim, dzal dan zai kerap
menyulitkan membaca Al Qur’an dengan benar. Secara berulang-ulang ustadz Asep memperbaiki
cara pengucapan peserta.
Pelajaran dilanjutkan
dengan kaidah dasar tajwid seperti harkat (fathah, dhomah, kasroh), tanwin,
sukun, madd, cara baca di akhir ayat. Paparan panjang dan sisipan video kisah
seorang hafidzh tuna netra dari Saudi Arabia mampu menerbitkan rasa haru para
peserta. Video ini memang dimaksudkan untuk memotivasi para peserta untuk mau
mempelajari dan menghapal Al Qur’an.
Acara diakhiri dengan penyampaian peserta
mengenai program pengajaran Qur’an hari ini. Tak sedikit yang menyatakan senang
dan beruntung ikut pelatihan kali ini. Tak sedikit juga yang bertutur seraya
meneteskan air mata karena haru.
Semoga macam kegiatan
yang bermanfaat lainnya akan mampu digagas oleh Salimah dan mitranya.
