Selasa, 29 Maret 2016

Belajar Al Qur'an secara Kilat dengan Metode Tahrir



“Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat sebagai syafaat (penolong) pembacanya” (HR Muslim)

Kang Zae membuka sesi

Al Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat dari Allah Swt senantiasa menjadi bacaan dan amalan dalam keluarga muslim. Tetapi untuk membacanya dengan baik sesuai kaidah tajwid haruslah dipelajari oleh setiap muslim. Dan, salah satu pintu untuk mempelajari Al Qur’an dengan baik diperkenalkan oleh Komunitas Cinta Qur’an dalam acara Gema salimah pada 26 hingga 27 Maret 2016 lalu. Acara yang didukung oleh Dompet Dhuafa ini berlangsung dengan baik di aula balai diklat keagamaan Paniki Manado.

Dalam kesempatan tersebut, pamateri ustadz Zaenuddin dan ustadz Asep Sumantri berbagi ilmu kepada seluruh peserta yang datang dari berbagai tempat di Manado dan Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah metode Tahrir yang diklaim sebagai Metode Super Cepat dan Super Mudah Belajar Membaca Al Qur’an.

Supaya peserta fokus dalam pengajaran yang berlangsung anatara 5 hingga 6 jam, maka di awal pemaparan disepakati aturan main. Ada empat aturan main yang harus ditaati peserta. “Mengubah moda HP menjadi hening (silent), fokus pada materi, ikut terlibat dan merasa senang dalam mengikuti kelas pelatihan,” ringkas Kang Zae sapaan untuk ustadz Zaenuddin.

Metode Tahrir 
Ustadz Asep menjelaskan Metode Tahrir

Masuk pada pengajaran, tampillah ustadz Asep yang memamparkan mengenai hak-hak dari Al Qur’an. “Pertama, diimani, dipelajari, dibaca, dipahami, diamalkan, diajarkan, dan didakwahkan,” ujar alumnus Mah’ad Al Azhar ini. Kemudian ia lanjutkan dengan pengajaran cara melafalkan huruf hijaiyah melalui cerita singkat dan menarik, yakni lewat cerita seorang dara.

“Tsaya Roza Zhohana, Tamaysa Ka Qota Adza, Bawa Shofa, La Kho Atho Ghoda, Dho’a Sahaja,” tuturnya yang disambut senyum simpul audien. Dari penjelasan awal ini makin meyakinkan peserta bahwa mempelajari Al Qur’an bukanlah sesuatu yang sulit. Apalagi setelah kang Zae melagukan bait hijaiyah tadi ke dalam irama “Balonku ada Lima”. Awalan yang menarik ini mampu membuat para muslimah sanggup bertahan hingga sesi akhir.

Lanjut dari pengantar Roza Dzohana, ustadz Asep meneruskan dengan pengajaran “Makhrojul Huruf”. Untuk memudahkan pemahaman, disajikan skema mulut dan tenggorokan lengkap dengan tempat keluar huruf. Kemiripan bunyi, misalnya pada huruf jim, dzal dan zai kerap menyulitkan membaca Al Qur’an dengan benar. Secara berulang-ulang ustadz Asep memperbaiki cara pengucapan peserta.

Pelajaran dilanjutkan dengan kaidah dasar tajwid seperti harkat (fathah, dhomah, kasroh), tanwin, sukun, madd, cara baca di akhir ayat. Paparan panjang dan sisipan video kisah seorang hafidzh tuna netra dari Saudi Arabia mampu menerbitkan rasa haru para peserta. Video ini memang dimaksudkan untuk memotivasi para peserta untuk mau mempelajari dan menghapal Al Qur’an. 

Acara diakhiri dengan penyampaian peserta mengenai program pengajaran Qur’an hari ini. Tak sedikit yang menyatakan senang dan beruntung ikut pelatihan kali ini. Tak sedikit juga yang bertutur seraya meneteskan air mata karena haru.

Semoga macam kegiatan yang bermanfaat lainnya akan mampu digagas oleh Salimah dan mitranya.    

Sabtu, 26 Maret 2016

Gema Salimah Berkumandang di Bumi Nyiur Melambai




Salimah PW Sulawesi Utara mengawali rangkaian kegiatannya di tahun 2016 dengan menyelenggarakan Gema (Gerakan membaca Al Qur’an) Salimah. Pelaksanaannya bertempat dimana Rakorwil kemarin berlangsung yakni di Balai Diklat Keagamaan, Paniki, Manado. Acara ini menggandeng Dompet Dhuafa (DD) yang mendatangkan trainer dari Komunitas Cinta Qur’an Jakarta.

Puluhan muslimah dari berbagai Majelis Taklim di Sulawesi Utara meramaikan acara ini. Mereka datang dari Sangihe, Minahasa Selatan, Paniki, Mapanget, Sindulang,Dendengan Dalam, Maasing, Sarongsong. Gema Salimah dibuka oleh ketua BKMT (Badan Koordinasi Majelis Taklim) Propinsi Sulawesi Utara, Dra. Ha. Zubaedah Albugis. Dalam kesempatan itu tokoh majlis taklim senior ini menyambut gembira kegiatan yang diselenggarakan oleh Salimah PW Sulawesi Utara.

“Inilah salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam, yakni membaca Al Qur’an,” ujarnya. Ia juga menyatakan bahwa hari itu terasa teduh karena lantunan ayat suci Al Qur’an dan tampilan solehah ibu-ibu yang hadir. Termasuk nuansa ungu yang menjadi ciri khas Salimah. “Ungu itu warna yang spesial karena adalah warna anggrek yang merupakan bunga yang cantik, mahal dan disukai oleh semua orang. Dan yang hadir pada hari ini seumpama anggrek-anggrek yang bermekaran,” paparnya yang disambut senyuman oleh hadirin.

Melengkapi pembukaan acara tampil dua ananda yang menunjukkan kebolehannya dalam menghapal Al Qur’an dengan bacaan yang baik, syahdu dan merdu. Spontan banyak para hadirin yang terpukau dan tersentuh hingga menitikan air mata.

Metode Baca Qur’an yang Unik 


Pelaksanaan Gema berlangsung baik karena peserta bersemangat mengikuti materi yang disampaikan oleh ustadz Asep Sumantri. Metode yang digunakan adalah Metode Tahrir yangdiklaim sebagai cara yang super cepat & super mudah dalam membaca Al Qur’an. Dalam kesempatan tersebut ustadz Asep mengingatkan kembali cara melafalkan huruf Al Qur’an atau yang lebih dikenal dengan pelajaran Makhrojul Huruf. Metode yang digunakan terbilang unik karena menggunakan bahasa yang ringan dan menarik dengan merangkai cerita dari kumpulan huruf hijaiyah. Serta menyampaikan kaidah dasar dalam membaca Al Qur’an seperti pemberian tanda baca, tanwin, sukun, tasdid, harkat.


Dan yang membuat antusias perseta tidak menurun karena di antara sesi materi disisipkan video motivasi hafidz Qur’an baik dari kalangan anak-anak dan penyandang difable mata (tuna netra). Penyampaian ini dimaksudkan memotivasi peserta agar bersemangat untuk menyukai belajar Al Qur’an dari membaca dengan kaidahnya hingga berkinginan untuk menghapal. Banyak dari peserta yang meneteskan airmata karena haru dan malu oleh pencapaian luar biasa dari anak-anak dan tuna netra yang ditampilkan pada video materi.

Kemeriahan acara terjaga dari sisipan relaksasi yang disampaikan oleh ustadz Zaenal, mitra dari ustadz Asep yang akrab disapa Kang Zae. Celotehannya mampu menerbitkan gelak tawa di kalangan peserta. Dan tak lupa kenang-kenangan dari Salimah berupa doorprize yang menarik.  

  

Jumat, 25 Maret 2016

Pelantikan Pengurus PW Salimah Sulawesi Utara


Pelantikan para pengurus Salimah (persaudaraan muslimah) PW Sulawesi Utara periode 2015-2020 sukses digelar pada 25 Maret lalu. Acara dilangsungkan di Balai Diklat Keagamaan, Paniki, Manado. Dalam acara tersebut hadir pula anggota legislatif DPRD Sulawei Utara, Hi. Amir Liputo dan Rita Lamusu serta ketua PKK PKS Sulawesi Utara, Risna. Juga segenap perwakilan PD yang hadir datang dari kota Manado, Kabupaten Sangihe dan Kabupaten Minahasa Selatan.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Salimah. Kemudian sambutan dari ketua panitia, Hasrianti Silondae,S.Pt dilanjutkan dengan sambutan Ketua PW Salimah Sulawesi Utara, Sulastri Masloman, S.Pd. Dalam kesempatan tersebut, Hi. Amir Liputo menyatakan dukungannya pada Salimah sebagai salah satu ormas perempuan bernafaskan Islam.

"Saya berharap Salimah dapat mengembangkan struktur pada level-level yang di bawah. Bergabung di Salimah bagus sekali. Karena dapat mengasah keterampilan untuk mengelola diri, organisasi dan rumah tangga," papar anggota legislaltif dari PKS ini.

Acara ditutup dengan pengambilan foto segenap pengurus PW Salimah Sulawesi Utara dan pembacaan doa oleh Kristina.    

Kamis, 17 Maret 2016

Akumulasi Ketakutan


Zona nyaman itu tidak untuk selamanya.

Dalam sebuah acara bertajuk "Ultimate-U" di sebuah TV swasta, disebutkan bahwa telah terjadi gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Mulanya bencana PHK ini menimpa korporasi berbasis penambangan minyak. Hal ini disebabkan turunnya harga minyak dunia, yang membuat keseimbangan keuangan perusahaan menjadi goyang.  Akibatnya pengurangan karyawan menjadi solusi pahit yang harus diambil oleh perusahaan.

Pemecatan karyawan itu melanda hampir semua belahan dunia, termasuk Indonesia. kabarnya, Chevron Indonesia mengambil kebijakan serupa dengan merumahkan karyawannya. Sektor perbankan juga terimbas, dengan indikasi CIMB Niaga yang menawarkan program pensiun dini kepada karyawannya.

Tentu saja bagi karyawan di dua perusahaan tadi, kabar ini sangat menohok. Bayangkan bila sebelumnya mereka memiliki karir dan penghasilan yang bagus. Maka dengan beredarnya isu PHK tentu membuat mereka dalam kebingungan.

Perasaan kebingungan juga dialami oleh masyarakat yang mendiami lokasi berizin "Hak Guna" bukan "Hak Milik". Sehingga meski harus bersiap kapan pun harus angkat kaki, baik sukarela atau diawasi Satpol PP tetap saja berita penggusuran ibarat petir di siang bolong yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Mau kemana kalau harus terusir ? Bagaimana dengan mata pencaharian di tempat yang baru ? Adalah sedikit pertanyaan yang terpikir dan terlontar dari warga eks lokasi penggusuran.

Ikhtiar dan Bermohon


Kita harus berpikir "our job is not our career". Kalau kerja adalah tugas yang boleh jadi karena sistem kita menjadi bisa (karena ada training, mentoring). Tapi kalau karir mungkin bisa menciptakan pekerjaan yang awalnya dari talenta, kegemaran (hobby), atau minat (passion). Itu yang menjadi kesempatan kita, pekerjaan baru yang lebih bisa diaplikasikan, atau ruang sosial yang dulu hampir tak tersentuh karena kesibukan kerja.

Jadi kalau kita, mungkin adalah korban PHK, pemutusan kontrak kerja, korban gusuran, atau siapapun yang tengah terpuruk. "Ayo Bangkit". Alloh telah memilih kita untuk masuk dalam ujian khusus, dalam menajamkan skill "survive" dan "create" dan pasti kita bisa melewatinya.

Mungkin kita bisa memulai dari hobby kita yang bisa jadi usaha kecil-kecilan. Banyak hasil industri rumahan (home industri) yang bisa bertahan dan membesar. Mengapa tidak, tho ?


Selasa, 15 Maret 2016

Rindu Kang ??

"Kangen"


Pernahkah kau keraskan hati untuk mengatakan "tidak" padahal "iya". Seperti rasa rindu yang datang samar-samar ...dalam sunyi namun ia menguat bersama kenangan yang memang lekat. Saat kau berjauhan dari lingkungan asalmu, maka rindu itu datang bersama apa-apa yang dulu tampak sepele. 

"Masakan ibumu, boncengan motor ayahmu, baju adikmu yang kau pinjam, traktiran jajan adikmu,  sebungkus nasi uduk, sate padang apotik, secangkir kopi di pantry kantor, sepotong dunkin ultah teman, seporsi junkfood di McD Pengkolan Kemang, teman bergelayut di kopaja atau busway,...sudah... dan aku tak sanggup lagi mengingatnya. Karena pasti membuat tawa dan tangis datang bersamaan.

Dan rindu itu kembali datang, apalagi, saat kakakku punya kesempatan menyebrangi lautan, melihat kampungnya dan mencium takzim kedua orangtuanya yang adalah orang tuaku juga. 

Apa daya, rindu hanyalah rasa yang harus terendap...jangan biarkan ia menyiksamu...Hibur dengan keriangan wajah anak-anakmu. Dua jagoan dengan kelucuan yang selalu meningkahi hariku. Untuk mereka aku ada. 

Dan kusimpan rindu untuk janji ada di sana dalam, mungkin satu, dua atau tiga tahun lagi, Insya Alloh.