Jumat, 17 Februari 2017

Ibadah Sosial dalam Keseharian Ummahat



Salimah PW Sulawesi Utara kembali mendapat undangan untuk hadir di TVRI Sulawesi Utara dalam acara Mimbar Agama Islam pada Kamis 16 Februari lalu. Kali ini yang tampil memenuhi undangan adalah Majelis Taklim Nurul Fatah, Pandu yang dipimpin oleh Aryanti Mointi. Ada sekitar 15 ummahat yang duduk manis menyimak tausiah dari DR. Musdalifah Dachrud Nadiffah, S.Ag, S.Psi, Msi yang juga pengajar di IAIN Manado.  


Syuting yang dilaksanakan pada bada maghrib, dipandu oleh Mutiara Prastutyningsih yang sehari-hari beraktivitas sebagai mahasiswi di IAIN Manado. Kali ini temanya adalah “Ibadah Sosial dalam kehidupan sehari-hari”. Pemandu acara tampak bersemangat menyapa ibu-ibu yang tampil cantik dalam balutan gamis bunga-bunga berhijab merah jambu.  

DR. Musdalifah yang akrab disapa Bunda Musdalifah ini menjelaskan bahwa yang dimaksud ibadah sosial adalah ibadah yang erat kaitannya dengan hubungan antar manusia. Atau jika ibadah yang merupakan tanda penyerahan diri kepada Khalik dalam shalat, puasa, tilawah, relasinya langsung pada Sang Khalik, Alloh Swt. Atau lebih dikenal sebagai “Hablum Minallah”, maka hubungan antara sesama manusia dikenal dengan istilah “Hablum Minannas”.

Ibadah menjadi kata kunci kehadiran manusia di muka bumi. Sebagaimana disampaikan oleh Bunda Musdalifah tentang bunyi ayat Adz Dzariyat ayat 56, ”Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Srhingga ibada kepada Alloh memang wajib dan utama tetapi tidak melupakan fungsi manusia sebagai makhluk sosial.

“Ada mereka yang ibadah hariannya bagus, shalat bagus, yang dikerjakan bukan cuma yang wajib tapi juga yang sunnah, begitu juga puasa. Tapi nggak bergaul atau bertegur sapa dengan tetangga. Wah itu ada yang nggak beres,” ungkapnya. Contoh yang ditampilkan menurut Bunda Musdalifah ini, ada di masyarakat. Mereka yang merasa cukup saja alim di mata Alloh tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Padahal insan yang sempurna dalam Islam yang bagus hubungannya dengan Alloh dan sesama makhluk, bukan saja pada manusia tapi pada tumbuhan dan hewan.

Peduli dan Berbagi
Lebih jauh, Bunda Musdalifah menjelaskan bahwa ibadah sosial erat dengan simpati, empati dan peduli (care). Dan dapat dimulai dengan yang mudah yakni tersenyum. “Ibadah yang mudah, bernilai sedekah dan tanpa modal” imbuhnya.

Dari senyum kemudian lahir perhatian dan kepedulian. Mulai saling mengenal dan berhubungan baik. Termasuk dalam ibadah sosial, adalah yang dari tindakannya membuat kebahagiaan atau keselamatan kepada orang lain. Misalnya menyingkirkan batu, duri di jalan. Memberi tanda ada lubang berbahaya di jalan sehingga pelintas berhati-hati.

Dari yang sederhana seperti, senyum, sedekah, menunaikan zakat, infak, memberi hadiah, mengajarkan ilmu, membantu kesusahan orang lain masuk pada kategori ibadah sosial.  
Tausiah juga diselingi tanya jawab dari hadirat. Beberapa menanyakan serba-serbi sedekah. Seperti keinginan bersedekah padahal kondisinya sulit, sedekah tapi riya, ingin diketahui oleh orang lain.

Bunda Musdalah memberi apresiasi kepada orang yang mampu bersedekah padahal dalam keadaan sempit. “Kalau berbagi dalam keadaan lapang itu biasa, tetapi bisa dan mampu menyisihkan rejeki untuk orang lain dalam keadaan sempit itu memang luar biasa,” pujinya.

Ia juga mengingatkan agar penyakit hati seperti riya tidak menodai ibadah bersedekah. “Memang kalau mau beribadah, godaan setannya kuat, yang pingin pamer, pingin dilihat orang. Ingat Riya adalah Syirkul Asgar (syirik yang kecil) jadi harus hati-hati. Dan tahan diri, biar Alloh saja yang tahu,” terangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar