Salimah PW Sulawesi
Utara kembali mendapat undangan untuk hadir di TVRI Sulawesi Utara dalam acara
Mimbar Agama Islam pada Kamis 16 Februari lalu. Kali ini yang tampil memenuhi
undangan adalah Majelis Taklim Nurul Fatah, Pandu yang dipimpin oleh Aryanti Mointi.
Ada sekitar 15 ummahat yang duduk manis menyimak tausiah dari DR. Musdalifah Dachrud
Nadiffah, S.Ag, S.Psi, Msi yang juga pengajar di IAIN Manado.
Syuting yang
dilaksanakan pada bada maghrib, dipandu oleh Mutiara Prastutyningsih yang
sehari-hari beraktivitas sebagai mahasiswi di IAIN Manado. Kali ini temanya
adalah “Ibadah Sosial dalam kehidupan sehari-hari”. Pemandu acara tampak
bersemangat menyapa ibu-ibu yang tampil cantik dalam balutan gamis bunga-bunga
berhijab merah jambu.
DR. Musdalifah yang
akrab disapa Bunda Musdalifah ini menjelaskan bahwa yang dimaksud ibadah sosial
adalah ibadah yang erat kaitannya dengan hubungan antar manusia. Atau jika
ibadah yang merupakan tanda penyerahan diri kepada Khalik dalam shalat, puasa,
tilawah, relasinya langsung pada Sang Khalik, Alloh Swt. Atau lebih dikenal
sebagai “Hablum Minallah”, maka hubungan antara sesama manusia dikenal dengan
istilah “Hablum Minannas”.
Ibadah menjadi kata
kunci kehadiran manusia di muka bumi. Sebagaimana disampaikan oleh Bunda
Musdalifah tentang bunyi ayat Adz Dzariyat ayat 56, ”Aku tidak menciptakan jin
dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Srhingga ibada kepada
Alloh memang wajib dan utama tetapi tidak melupakan fungsi manusia sebagai
makhluk sosial.
“Ada mereka yang ibadah
hariannya bagus, shalat bagus, yang dikerjakan bukan cuma yang wajib tapi juga
yang sunnah, begitu juga puasa. Tapi nggak bergaul atau bertegur sapa dengan
tetangga. Wah itu ada yang nggak beres,” ungkapnya. Contoh yang ditampilkan
menurut Bunda Musdalifah ini, ada di masyarakat. Mereka yang merasa cukup saja
alim di mata Alloh tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Padahal insan yang
sempurna dalam Islam yang bagus hubungannya dengan Alloh dan sesama makhluk,
bukan saja pada manusia tapi pada tumbuhan dan hewan.
Peduli
dan Berbagi
Lebih jauh, Bunda Musdalifah
menjelaskan bahwa ibadah sosial erat dengan simpati, empati dan peduli (care). Dan
dapat dimulai dengan yang mudah yakni tersenyum. “Ibadah yang mudah, bernilai
sedekah dan tanpa modal” imbuhnya.
Dari senyum kemudian
lahir perhatian dan kepedulian. Mulai saling mengenal dan berhubungan baik. Termasuk
dalam ibadah sosial, adalah yang dari tindakannya membuat kebahagiaan atau
keselamatan kepada orang lain. Misalnya menyingkirkan batu, duri di jalan.
Memberi tanda ada lubang berbahaya di jalan sehingga pelintas berhati-hati.
Dari yang sederhana
seperti, senyum, sedekah, menunaikan zakat, infak, memberi hadiah, mengajarkan
ilmu, membantu kesusahan orang lain masuk pada kategori ibadah sosial.
Tausiah juga diselingi
tanya jawab dari hadirat. Beberapa menanyakan serba-serbi sedekah. Seperti keinginan
bersedekah padahal kondisinya sulit, sedekah tapi riya, ingin diketahui oleh
orang lain.
Bunda Musdalah memberi apresiasi
kepada orang yang mampu bersedekah padahal dalam keadaan sempit. “Kalau berbagi
dalam keadaan lapang itu biasa, tetapi bisa dan mampu menyisihkan rejeki untuk
orang lain dalam keadaan sempit itu memang luar biasa,” pujinya.
Ia juga mengingatkan
agar penyakit hati seperti riya tidak menodai ibadah bersedekah. “Memang kalau
mau beribadah, godaan setannya kuat, yang pingin pamer, pingin dilihat orang.
Ingat Riya adalah Syirkul Asgar (syirik yang kecil) jadi harus hati-hati. Dan tahan
diri, biar Alloh saja yang tahu,” terangnya.



