Pada
bait indah tertitip kenangan dan harapan
yang menjanjikan untuk dijelang.
Bagi yang suka dan
terpikat pada karya sastra pasti jatuh hati kala menyimak bacaan Al Quran. Dan
begitulah Kalam Allah tentu saja menggetarkan hati hamba-Nya. Simak saja surat
An Nur ayat 35
“....Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu
bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang
diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di
barat yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh
api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah Memberi petunjuk kepada
cahaya-Nya bagi orang-orang yang Dia kehendaki”.
Dan hanya Yang Maha Indah
yang mampu mencipta bait begitu syahdu. Ungkapan yang akan membuat jatuh cinta
bahkan pada yang awam sastra sekalipun.
Dan sastra pula yang
telah memikat perempuan bernama Hasrianti Silondae,kecintaanya bukan lagi
sebatas penikmat sastra tetapi membuatnya menjadi pembelajar dan pencipta karya
sastra atau lebih tepatnya adalah Puisi. Wanita kelahiran Ranoeya, Sulawesi
Tenggara, 1 Oktober 1982 ini sudah menyukai puisi sejak duduk di bangku SD.
Dan kesenangannya
menyusun bait, ia abadikan untuk menangkap momen, menyimpan kenangan, mematri
harapan, berbagi keceriaan, menghayati proses kehidupan yang telah dilewati.
Kegiatan menulis puisi dan karya sastra lebih intens ia lakukan saat berstatus
mahasiswi di Universitas Haluoleo Kendari.
Lecutan
Harapan
Dalam satu karyanya
tersirat keinginan untuk menyambangi taman ilmu di belahan Eropa dalam karyanya
bertajuk “Edinburgh”.
“…Cuaca berganti peran
demikian mimpi bertebaran sepanjang jendela kaca Antara Royal Castle hingga
masjid King Fadh nan megah. Jejak sejarah suci terkenang sampai ke lubuk hati
seniman. Petang membasuh warna ; cantik musim semi, menguning musim gugur.
Hamparan taman syahdu mencerahkan hati, haru biru kanvas rindu. Mengerjap,
mengecup kelopak mawar, memesona, mozaik Edinburgh tengah harii”.
Saat menuntut ilmu di
Fakultas Pertanian Unhalu membuatnya makin bergiat di ranah sastra dan
penulisan. Sempat menjadi Pimred Buletin Dakwah Kampus, Al Ishlah. Ia juga
aktif di FLP Kendari. Karyanya sempat dimuat di majalah Annida dan Antologi
Cerpen IBU bersama penulis dari berbagai daerah di Indonesia,
Konsistensi dalam
penulisan dan sastra masih ditekuni hingga kini. Ia pun kemudian berkawan
dengan rekan seminat yang terhimpun dalam komunitas sastra. Hingga akhirnya
timbul inisiatif untuk mendokumentasikan karyanya. Jadilah,”Antologi Puisi
Perempuan Mutakhir” (2009), “Antologi Puisi Nyanyian Mistis Dedaunan” (2014), “Antologi
Cerpen Ibu” (2014), “99 Mukadimah” (2016), buku solo “Hidup itu Mudah, Senikmat
Makan Roti” (2014), mendapat apresiasi yang cukup signifikan dari beberapa
pembaca. Mereka mengaku tergugah dengan sekelumit pengalaman yang dituangkan
dalam bukunya tersebut. Dan tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri ketika
karya tulisnya tidak sekadar dinikmati tetapi juga menjadi motivasi untuk
menjadi yang terbaik.
Di lingkup kerjanya, ibu
dua putri ini berupaya produktif menelurkan karya tulis ilmiah.
Beberapa telah dipublikasikan dalam Prosiding Nasional dan Jurnal Ilmiah
Nasional. Ia dipercaya menjadi editor “20 Inovasi Teknologi” yang ditulis bersama
rekan-rekannya di BPTP Sulut.
Harapan dari istri
Santoso ini, puisi dan karya sastranya lebih menyokong passion-nya sekarang pada karir sebagai peneliti di kementrian
pertanian, bidang sosial dan da’wah. Dan menjadi aktivitas yang mengantar pada
karya ukhrawi. Pencapaiannya ini mudah-mudahan menginspirasi muslimah lainnya
dalam berkarya di bidang yang mereka minati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar