Sabtu, 30 Juli 2016

Susunan Bait Penyimpan Kenangan dan Harapan



Pada bait indah tertitip kenangan  dan harapan yang menjanjikan untuk dijelang.

Bagi yang suka dan terpikat pada karya sastra pasti jatuh hati kala menyimak bacaan Al Quran. Dan begitulah Kalam Allah tentu saja menggetarkan hati hamba-Nya. Simak saja surat An Nur ayat 35 

“....Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah Memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang-orang yang Dia kehendaki”.


Dan hanya Yang Maha Indah yang mampu mencipta bait begitu syahdu. Ungkapan yang akan membuat jatuh cinta bahkan pada yang awam sastra sekalipun.
Dan sastra pula yang telah memikat perempuan bernama Hasrianti Silondae,kecintaanya bukan lagi sebatas penikmat sastra tetapi membuatnya menjadi pembelajar dan pencipta karya sastra atau lebih tepatnya adalah Puisi. Wanita kelahiran Ranoeya, Sulawesi Tenggara, 1 Oktober 1982 ini sudah menyukai puisi sejak duduk di bangku SD.

Dan kesenangannya menyusun bait, ia abadikan untuk menangkap momen, menyimpan kenangan, mematri harapan, berbagi keceriaan, menghayati proses kehidupan yang telah dilewati. Kegiatan menulis puisi dan karya sastra lebih intens ia lakukan saat berstatus mahasiswi di Universitas Haluoleo Kendari.

Lecutan Harapan
Dalam satu karyanya tersirat keinginan untuk menyambangi taman ilmu di belahan Eropa dalam karyanya bertajuk “Edinburgh”.

“…Cuaca berganti peran demikian mimpi bertebaran sepanjang jendela kaca Antara Royal Castle hingga masjid King Fadh nan megah. Jejak sejarah suci terkenang sampai ke lubuk hati seniman. Petang membasuh warna ; cantik musim semi, menguning musim gugur. Hamparan taman syahdu mencerahkan hati, haru biru kanvas rindu. Mengerjap, mengecup kelopak mawar, memesona, mozaik Edinburgh tengah harii”.

Saat menuntut ilmu di Fakultas Pertanian Unhalu membuatnya makin bergiat di ranah sastra dan penulisan. Sempat menjadi Pimred Buletin Dakwah Kampus, Al Ishlah. Ia juga aktif di FLP Kendari. Karyanya sempat dimuat di majalah Annida dan Antologi Cerpen IBU bersama penulis dari berbagai daerah di Indonesia, 

Konsistensi dalam penulisan dan sastra masih ditekuni hingga kini. Ia pun kemudian berkawan dengan rekan seminat yang terhimpun dalam komunitas sastra. Hingga akhirnya timbul inisiatif untuk mendokumentasikan karyanya. Jadilah,”Antologi Puisi Perempuan Mutakhir” (2009), “Antologi Puisi Nyanyian Mistis Dedaunan” (2014), “Antologi Cerpen Ibu” (2014), “99 Mukadimah” (2016), buku solo “Hidup itu Mudah, Senikmat Makan Roti” (2014), mendapat apresiasi yang cukup signifikan dari beberapa pembaca. Mereka mengaku tergugah dengan sekelumit pengalaman yang dituangkan dalam bukunya tersebut. Dan tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri ketika karya tulisnya tidak sekadar dinikmati tetapi juga menjadi motivasi untuk menjadi yang terbaik.

Di lingkup kerjanya, ibu dua putri ini berupaya produktif menelurkan karya tulis ilmiah. Beberapa telah dipublikasikan dalam Prosiding Nasional dan Jurnal Ilmiah Nasional. Ia dipercaya menjadi editor “20 Inovasi Teknologi” yang ditulis bersama rekan-rekannya di BPTP Sulut.

Harapan dari istri Santoso ini, puisi dan karya sastranya lebih menyokong passion-nya sekarang pada karir sebagai peneliti di kementrian pertanian, bidang sosial dan da’wah. Dan menjadi aktivitas yang mengantar pada karya ukhrawi. Pencapaiannya ini mudah-mudahan menginspirasi muslimah lainnya dalam berkarya di bidang yang mereka minati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar