Minggu, 12 Juni 2016

Beri Ruang untuk Kecerdasan Anak



 Anak-anak memiliki ragam kecerdasan yang membutuhkan perlakuan yang tidak seragam.

Salimah menjadi mitra dari Home Education Community dalam penyelenggaraan Seminar dan Workshop “Multiple Intelligences” bersama Praktisi Pendidikan Alamsyah Said, SPd, MSi dari Jakarta. Seminar yang ditujukan bagi orang tua dan pendidik ini berlangsung pada 5 Mei silam di Aula Telkom Manado. Hadir dalam kesempatan tersebut beberapa pengurus Salimah dari Ketua PW, Dept. SDM, Dept. Pendidikan & Da’wah serta Dept. Humas.

Telkom yang turut menjadi sponsor menyambut baik penyelenggaraan acara ini. Melalui Government Account Manager Telkom Sulut Maluku Gorontalo, Joko Sulistyo menyatakan kegembiraannya dengan hadirnya acara bertema edukasi ini. 


“Saya sempat berada di Eropa. Di sana saya lihat kalau anak-anak belum diajari yang serius hanya disuruh bermain. Kalau di Indonesia dari kecil sudah harus bisa misalnya 4 tahun sudah bisa membaca,” papar Joko.

Tentu seiring waktu dan perkembangan teknologi, penanganan anak dalam hal pendidikan memerlukan perhatian serius. Supaya kecerdasan bawaan anak lebih mendapat ruang berkembang dan tidak dibatasi pada praktek pendidikan yang kaku.
Itulah yang mendasari ketua panitia, Sri Isyana untuk mengundang pembicara yang kompeten berbicara mengenai kecerdasan jamak kepada audiens di kota Manado dan sekitarnya.

“Karena mahal kalau harus ikutan seminar pendidikan ke Jakarta atau kota besar lainnya. Maka kita dari Home Education Community berinisiatif mengundang pakar pendidikan untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang tua dan pendidik di sini,” jelasnya.   

Kecerdasan Jamak

Manusia terlahir dengan bawaan karakter dan bakat yang berbeda-beda. Keragaman kecerdasan atau yang lazim dikenal sebagai Multiple Intelligences (MI ; kecerdasan jamak) kerap ditemukan pada diri seorang anak. Misalnya, mereka dengan kecenderungan seni, ternyata memiliki kecerdasan jamak pada kecerdasan naturalis, visual spasial, linguistik. Ada pula yang jago matematika plus pandai menggambar tetapi kurang PD dalam pergaulan.

Penjabaran lebih jauh mengenai kecerdasan jamak terulas sekitar 2 jam bersama pakar pendidikan Alamsyah Said. Ia mengawali paparannya dengan ungkapan “Tidak ada anak yang terlahir bodoh”.
“Setiap anak memiliki potensi kecerdasan tetapi seberapa besar kualitas potensi kecerdasan anak tergantung 3 hal. Yakni, cara orang tua mendidik, lingkungan dan kesehatan makanan,” ujar alumnus Universitas Manado, Tondano ini.

Sehingga perlakuan orang tua akan menguatkan pondasi kecerdasan si buah hati. Orang tua yang diharapkan paling tahu kondisi kecerdasan dan kecenderungan putra-putrinya.
Alamsyah kemudian merinci kecerdasan jamak adalah meliputi : bahasa (linguistik), naturalis, logis, intrapersonal, interpersonal, kinestetik, spasial visual, musikal.

Berbagi Ilmu

Alamsyah mengutarakan beberapa contoh dalam menghadapi anak yang gampang bosan dengan satu metode belajar. Karena cara-cara konvensional seperti menunggui anak saat belajar dan bersikap sepeti guru di kelas justru membuat motivasi belajar anak menurun.

“Maka orangtua harus pintar dan tidak malas mencari variasi cara belajar anak. Buat kegiatan belajar menjadi menyenangkan misalnya dengan bermain-main, menonton atau berjalan-jalan,” tambahnya.
Seperti anak yang cenderung pada kecerdasan kinestetik atau mereka yang aktif secara fisik akan bosan kalau harus duduk diam berlama-lama. “Coba ajak ke halaman belakang, kemudian minta anak memungut daun dan memisahkan yang hijau dan kuning. Kemudian menghitungnya atau mengajari operasi matematika sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan. Tentu ini lebih menyenangkan” sarannya.


Menanggapi pertanyaan salah seorang peserta yang mencoba menghindari kata “jangan” pada anak. Ayah satu putri ini menjawab dengan memberi contoh. Misalnya, situasi dalam kelas anak-anak berlarian. “Maka katakan. Ayo jalan ya anak-anak,” terangnya. Jadi penggunaan kata “jangan” harus digantikan dengan kata lain yang punya maksud sama. Di sini, baik pendidik maupun orang tua dituntut untuk kreatif dan mau berinisiatif.

Dalam pengalamannya sebagai pendidik ia mencontohkan bahwa sebaiknya institusi pendidikan mulai memberlakukan tes untuk calon siswa adalah yang standar misalnya calistung (baca, tulis hitung) dan pengenalan gaya belajar anak. Sehingga track record awal anak adalah catatan kemampuan akademik dasar dan gaya belajar.

Sehingga pembagian kelas didasarkan pada kelompok-kelompok kecerdasan jamak. Misalnya kelompok seni (naturalis, spasial visual, lingusitik), kelompok logika bahasa (logis – lingusitik). Dari situ akan digunakan metode belajar yang tepat bagi anak.

Di ujung paparannya ia menyemangati audiens bahwa “Tidak ada anak yang bodoh. Tidak ada produk yang gagal. Orang tua harus aktif dalam mengenali dan mendukung gaya belajar anak. Dan hindari cara-cara konvensional dalam mengajar anak tetapi harus kreatif dan bervariasi dalam mengajar anak,” simpulnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar