Anak-anak
memiliki ragam kecerdasan yang membutuhkan perlakuan yang tidak seragam.
Salimah menjadi mitra
dari Home Education Community dalam
penyelenggaraan Seminar dan Workshop “Multiple Intelligences” bersama Praktisi Pendidikan
Alamsyah Said, SPd, MSi dari Jakarta. Seminar yang ditujukan bagi orang tua dan
pendidik ini berlangsung pada 5 Mei silam di Aula Telkom Manado. Hadir dalam
kesempatan tersebut beberapa pengurus Salimah dari Ketua PW, Dept. SDM, Dept.
Pendidikan & Da’wah serta Dept. Humas.
Telkom yang turut
menjadi sponsor menyambut baik penyelenggaraan acara ini. Melalui Government
Account Manager Telkom Sulut Maluku Gorontalo, Joko Sulistyo menyatakan
kegembiraannya dengan hadirnya acara bertema edukasi ini.
“Saya sempat berada di Eropa.
Di sana saya lihat kalau anak-anak belum diajari yang serius hanya disuruh
bermain. Kalau di Indonesia dari kecil sudah harus bisa misalnya 4 tahun sudah
bisa membaca,” papar Joko.
Tentu seiring waktu dan
perkembangan teknologi, penanganan anak dalam hal pendidikan memerlukan
perhatian serius. Supaya kecerdasan bawaan anak lebih mendapat ruang berkembang
dan tidak dibatasi pada praktek pendidikan yang kaku.
Itulah yang mendasari
ketua panitia, Sri Isyana untuk mengundang pembicara yang kompeten berbicara
mengenai kecerdasan jamak kepada audiens di kota Manado dan sekitarnya.
“Karena mahal kalau
harus ikutan seminar pendidikan ke Jakarta atau kota besar lainnya. Maka kita
dari Home Education Community
berinisiatif mengundang pakar pendidikan untuk berbagi ilmu dan pengalaman
kepada orang tua dan pendidik di sini,” jelasnya.
Kecerdasan
Jamak
Manusia terlahir dengan
bawaan karakter dan bakat yang berbeda-beda. Keragaman kecerdasan atau yang
lazim dikenal sebagai Multiple
Intelligences (MI ; kecerdasan jamak) kerap ditemukan pada diri seorang
anak. Misalnya, mereka dengan kecenderungan seni, ternyata memiliki kecerdasan
jamak pada kecerdasan naturalis, visual spasial, linguistik. Ada pula yang jago
matematika plus pandai menggambar tetapi kurang PD dalam pergaulan.
Penjabaran lebih jauh
mengenai kecerdasan jamak terulas sekitar 2 jam bersama pakar pendidikan
Alamsyah Said. Ia mengawali paparannya dengan ungkapan “Tidak ada anak yang
terlahir bodoh”.
“Setiap anak memiliki
potensi kecerdasan tetapi seberapa besar kualitas potensi kecerdasan anak
tergantung 3 hal. Yakni, cara orang tua mendidik, lingkungan dan kesehatan
makanan,” ujar alumnus Universitas Manado, Tondano ini.
Sehingga perlakuan
orang tua akan menguatkan pondasi kecerdasan si buah hati. Orang tua yang
diharapkan paling tahu kondisi kecerdasan dan kecenderungan putra-putrinya.
Alamsyah kemudian
merinci kecerdasan jamak adalah meliputi : bahasa (linguistik), naturalis,
logis, intrapersonal, interpersonal, kinestetik, spasial visual, musikal.
Berbagi
Ilmu
Alamsyah mengutarakan
beberapa contoh dalam menghadapi anak yang gampang bosan dengan satu metode
belajar. Karena cara-cara konvensional seperti menunggui anak saat belajar dan
bersikap sepeti guru di kelas justru membuat motivasi belajar anak menurun.
“Maka orangtua harus
pintar dan tidak malas mencari variasi cara belajar anak. Buat kegiatan belajar
menjadi menyenangkan misalnya dengan bermain-main, menonton atau
berjalan-jalan,” tambahnya.
Seperti anak yang
cenderung pada kecerdasan kinestetik atau mereka yang aktif secara fisik akan
bosan kalau harus duduk diam berlama-lama. “Coba ajak ke halaman belakang,
kemudian minta anak memungut daun dan memisahkan yang hijau dan kuning.
Kemudian menghitungnya atau mengajari operasi matematika sederhana seperti
penjumlahan dan pengurangan. Tentu ini lebih menyenangkan” sarannya.
Menanggapi pertanyaan
salah seorang peserta yang mencoba menghindari kata “jangan” pada anak. Ayah
satu putri ini menjawab dengan memberi contoh. Misalnya, situasi dalam kelas
anak-anak berlarian. “Maka katakan. Ayo jalan ya anak-anak,” terangnya. Jadi
penggunaan kata “jangan” harus digantikan dengan kata lain yang punya maksud
sama. Di sini, baik pendidik maupun orang tua dituntut untuk kreatif dan mau
berinisiatif.
Dalam pengalamannya
sebagai pendidik ia mencontohkan bahwa sebaiknya institusi pendidikan mulai
memberlakukan tes untuk calon siswa adalah yang standar misalnya calistung
(baca, tulis hitung) dan pengenalan gaya belajar anak. Sehingga track record awal anak adalah catatan
kemampuan akademik dasar dan gaya belajar.
Sehingga pembagian
kelas didasarkan pada kelompok-kelompok kecerdasan jamak. Misalnya kelompok
seni (naturalis, spasial visual, lingusitik), kelompok logika bahasa (logis –
lingusitik). Dari situ akan digunakan metode belajar yang tepat bagi anak.
Di ujung paparannya ia
menyemangati audiens bahwa “Tidak ada anak yang bodoh. Tidak ada produk yang
gagal. Orang tua harus aktif dalam mengenali dan mendukung gaya belajar anak.
Dan hindari cara-cara konvensional dalam mengajar anak tetapi harus kreatif dan
bervariasi dalam mengajar anak,” simpulnya.