Limpahan
kasih sayang dan ketegasan menjadi kunci sukses dalam mendidik anak.
Salimah PW Sulut
mendapat kesempatan istimewa untuk hadir di studio TVRI Sulut sebagai audiens
acara Mimbar Agama Islam. Syuting program religi tersebut dilaksanakan pada 31
Maret lalu.
Sebagai nara sumber
dalam acara tersebut adalah DR. Musdalifah Dachrud Nadiffah, S.Ag, S.Psi, Msi yang juga adalah pengajar di IAIN Manado. Dari
Salimah PW Sulut hadir ketua, Sulastri Masloman, S.Pd, Bendahara, Rita Kusuma,
Dept. Pendidikan dan Da’wah, Hasrianti Silondae, S.Pt, Dept. Bangda, Suryani
Balango, S.Sos dan Dept. Humas, Partinah Nanik. Dalam kesempatan tersebut,
hadir pula ummahat dari MT Al Azhim Lapangan dan MT CBA Mapanget.
Dr. Musdalifah
mengawali paparannya dengan menghimbau ibu-ibu untuk mengedepank an cara Rasul
dalam mendidik anak, yakni dengan kasih sayang. Berangkat dari prinsip ushul
fiqh yang menimbang antara manfaat (kebaikan) dan mudharat (keburukan) dalam
menyikapi maraknya penggunaan gadget sekarang ini. Beberapa piranti gadget
tersebut adalah televisi, laptop, ponsel, tablet.
“Anak-anak sekarang
bukan hanya tahu, atau menonton tapi sudah terampil menggunakan aplikasi dan
program di gadget,” terangnya. Sebagai orang tua, harus jeli melihat manfaat
dan mudarat penggunaan aneka gadget tersebut. “Teknologi tidak bisa ditentang.
Boleh diberikan tetapi harus dikontrol,” lanjutnya lagi.
Dan yang tak kalah
penting adalah kesanggupan orang tua dalam meluangkan waktu untuk mendampingi
anak. Baik pada saat menonton acara TV, atau saat main game di gadget. Sehingga orang tua harus punya jurus jitu dalam
mendidik anak yakni dengan 3C (Commitment, Consistence, dan Continous). Singkatnya,
dalam keluarga ada aturan main yang diterapkan. Dan aturan ini harus
disepakati, didukung dan dilaksanakan secara terus menerus.
Peran
Orang Tua
Namun pengajaran
terbaik untuk anak berasal dari orang tuanya, bukan dari guru atau orang lain.
Karena faktor kedekatan maka orang tua menjadi objek tiruan anak. Itulah,
sering kita lihat kesamaan sikap dan sifat antara anak dan orang tuanya. Maka,
seyogyanya orang tua memberikan teladan yang baik.
“Kita menyuruh anak
shalat tepat waktu saat mendengar azan. Nah, ibu harus mencontohkan jangan
masih asyik dengan TV apalagi pas ada sinetron favorit,” sindir Musdalifah yang
disambut senyum simpul para ummahat.
Pendampingan juga
diberikan, misalnya saat menonton TV ketika ada adegan yang kurang layak
seperti kekerasan atau kemesraan yang berlebihan. “Karena percuma melarang anak
melihat adegan itu. Padahal di luar sana, di kehidupan nyata anak kerap
melihatnya. Maka dari itu orang tua harus mendampingi dan memberi pengertian,”
jelasnya.
Lebih jauh tentang 3C,
Musdalifah mengatakan harus ada commitment terhadap aturan keluarga misalnya
waktu shalat, jam nonton, jam belajar, jam bermain, jam tidur, waktu
bercengkrama. Kemudian orang dewasa dalam rumah harus menegakkan aturan (consistent).
Jadi, ayah, ibu, nenek dan kakek, misalnya harus sama sikapnya. Dan, terakhir
kebiasaan yang baik harus dijaga dan dipelihara (continous).
Jika 3C dilakukan,
Insya Alloh anak akan merasa nyaman dan memiliki pondasi kuat. Apalagi dengan
memperhatikan masa tumbuh kembang terbaik (golden age) pada 0 – 5 tahun anak
yang memori impuls dari sekitarnya. Baik dari pengetahuan, pengamatan, sikap,
cara asuh dalam keluarga. Nanti pada akil baligh (12 tahun) ia sudah punya
sikap dalam menghadapi dinamika hidupnya, bagaimana melihat perbedaan dan
pertentangan.
Di ujung paparannya,
Musdalifah mengajak ibu-ibu mengambil peran yang lebih aktif sebagai pengasuh
dan pendidik terbaik bagi anak-anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar