Selasa, 05 April 2016

Jurus 3C dalam Mendidik Generasi Penerus



Limpahan kasih sayang dan ketegasan menjadi kunci sukses dalam mendidik anak.




Salimah PW Sulut mendapat kesempatan istimewa untuk hadir di studio TVRI Sulut sebagai audiens acara Mimbar Agama Islam. Syuting program religi tersebut dilaksanakan pada 31 Maret lalu.

Sebagai nara sumber dalam acara tersebut adalah DR. Musdalifah Dachrud Nadiffah, S.Ag, S.Psi, Msi  yang juga adalah pengajar di IAIN Manado. Dari Salimah PW Sulut hadir ketua, Sulastri Masloman, S.Pd, Bendahara, Rita Kusuma, Dept. Pendidikan dan Da’wah, Hasrianti Silondae, S.Pt, Dept. Bangda, Suryani Balango, S.Sos dan Dept. Humas, Partinah Nanik. Dalam kesempatan tersebut, hadir pula ummahat dari MT Al Azhim Lapangan dan MT CBA Mapanget.

Dr. Musdalifah mengawali paparannya dengan menghimbau ibu-ibu untuk mengedepank an cara Rasul dalam mendidik anak, yakni dengan kasih sayang. Berangkat dari prinsip ushul fiqh yang menimbang antara manfaat (kebaikan) dan mudharat (keburukan) dalam menyikapi maraknya penggunaan gadget sekarang ini. Beberapa piranti gadget tersebut adalah televisi, laptop, ponsel, tablet.

“Anak-anak sekarang bukan hanya tahu, atau menonton tapi sudah terampil menggunakan aplikasi dan program di gadget,” terangnya. Sebagai orang tua, harus jeli melihat manfaat dan mudarat penggunaan aneka gadget tersebut. “Teknologi tidak bisa ditentang. Boleh diberikan tetapi harus dikontrol,” lanjutnya lagi.

Dan yang tak kalah penting adalah kesanggupan orang tua dalam meluangkan waktu untuk mendampingi anak. Baik pada saat menonton acara TV, atau saat main game di gadget. Sehingga orang tua harus punya jurus jitu dalam mendidik anak yakni dengan 3C (Commitment, Consistence, dan Continous). Singkatnya, dalam keluarga ada aturan main yang diterapkan. Dan aturan ini harus disepakati, didukung dan dilaksanakan secara terus menerus.

Peran Orang Tua


Namun pengajaran terbaik untuk anak berasal dari orang tuanya, bukan dari guru atau orang lain. Karena faktor kedekatan maka orang tua menjadi objek tiruan anak. Itulah, sering kita lihat kesamaan sikap dan sifat antara anak dan orang tuanya. Maka, seyogyanya orang tua memberikan teladan yang baik.

“Kita menyuruh anak shalat tepat waktu saat mendengar azan. Nah, ibu harus mencontohkan jangan masih asyik dengan TV apalagi pas ada sinetron favorit,” sindir Musdalifah yang disambut senyum simpul para ummahat.

Pendampingan juga diberikan, misalnya saat menonton TV ketika ada adegan yang kurang layak seperti kekerasan atau kemesraan yang berlebihan. “Karena percuma melarang anak melihat adegan itu. Padahal di luar sana, di kehidupan nyata anak kerap melihatnya. Maka dari itu orang tua harus mendampingi dan memberi pengertian,” jelasnya.



Lebih jauh tentang 3C, Musdalifah mengatakan harus ada commitment terhadap aturan keluarga misalnya waktu shalat, jam nonton, jam belajar, jam bermain, jam tidur, waktu bercengkrama. Kemudian orang dewasa dalam rumah harus menegakkan aturan (consistent). Jadi, ayah, ibu, nenek dan kakek, misalnya harus sama sikapnya. Dan, terakhir kebiasaan yang baik harus dijaga dan dipelihara (continous).

Jika 3C dilakukan, Insya Alloh anak akan merasa nyaman dan memiliki pondasi kuat. Apalagi dengan memperhatikan masa tumbuh kembang terbaik (golden age) pada 0 – 5 tahun anak yang memori impuls dari sekitarnya. Baik dari pengetahuan, pengamatan, sikap, cara asuh dalam keluarga. Nanti pada akil baligh (12 tahun) ia sudah punya sikap dalam menghadapi dinamika hidupnya, bagaimana melihat perbedaan dan pertentangan.

Di ujung paparannya, Musdalifah mengajak ibu-ibu mengambil peran yang lebih aktif sebagai pengasuh dan pendidik terbaik bagi anak-anaknya.