(tulisan dimuat Tribun Manado, 20 Mei 2017)
Buah
tangan dari perjalanan ke Sangihe
Penghujung April lalu,
pengurus PW Salimah Sulawesi Utara mendapat undangan untuk hadir di kabupaten
Sangihe. Acara yang dihelat oleh PD Sangihe adalah pelantikan pengurus PC
Tabukan Utara. Saya dengan rekan di Departemen Humas PW Sulut Nita Candra
berkesempatan memenuhi undangan tersebut.
Berangkatlah kami
berdua menuju Sangihe menumpang kapal Saint Mary yang bertolak menjelang Isya dari
pelabuhan Manado. Melewati dini hari, kapal merapat di pelabuhan Tahuna.
Kemudian jemputan kami mengantar hingga masuk desa Petta Barat. Usai
beristirahat dan sarapan, kami pun bersiap untuk menyaksikan acara pelantikan.
Kegembiraan terpancar
dari ibu-ibu yang hadir dalam acara tersebut. Selain calon pengurus yang akan
dilantik, beberapa wajah tak asing adalah pengurus PD Sangihe dan tamu
undangan. Mereka adalah ibu-ibu yang rutin mengikuti kajian keagamaan di mesjid
setempat. Lebih terkejut saya, ketika mengetahui pengurus PC Tabukan Utara adalah ibu-ibu
senior atau yang sudah menyandang status oma. Semangat yang diperlihatkan
mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan keagamaan dalam usia
menjelang senja menyuntikan energi. Betapa mereka yang tua, tak hilang daya
bahkan bersemangat dalam kebaikan.
Dan, kesempatan berbincang
dengan pengurus PD Sangihe lebih menambah kekaguman saya. Beberapa diantaranya
adalah para pedagang di pasar lokal. Ada yang berjual bahan sandang, berjualan
jamu dan ada juga yang berjualan bakso. Pikiran saya bermain-main dan bertanya,
“Untuk apa ya mereka yang sudah sibuk berdagang, repot-repot masuk ormas.
Berletih-letih untuk mengerjakan proyek sosial?”
Kemudian saya teringat
akan teori psikolog kondang Abraham Maslow yang menjabarkan kebutuhan dasar
manusia. Maslow membagi kebutuhan dalam lima kelompok. Dari yang paling dasar
adalah kebutuhan physiologic yakni
pada sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan. Kemudian kebutuhan akan safety, bebas dari rasa takut dan merasa
aman. Selanjutnya ada kebutuhan love,
kasih sayang bisa dari pasangan, teman atau lingkungan. Kemudian ada kebutuhan esteem, penghargaan baik yang tersirat
dalam status sosial atau tersurat dalam tampilan piagam, piala, sertifikat.
Terakhir adalah kebutuhan self
actualization, atau aktualisasi diri, menampilkan diri bukan sebagai
individu yang pongah karena sudah sukses. Tapi mature (dewasa) dalam menjalani kehidupan. Pada titik ini,
seseorang menjadi lebih bijak pada
sesama, menerima perbedaan secara arif, mau menjadi bagian dari solusi masalah,
memiliki pengalaman spiritual yang menjadikannya arif bijaksana.
Ketika memahami ini,
maka saya pun mengerti mengapa para niagawati di pasar lokal di sana mau
bersusah payah, berepot-repot masuk dalam ormas. Mereka ada pada titik ingin
membantu orang lain yang mereka kenal, menghidupkan kegiatan positif di
lingkungannya. Posisi kebutuhan mereka ada pada menjaga kasih sayang (love)
dari lingkungan dia berada. Baik di lingkungan mencari nafkah dan lingkungan
tinggal.
Dari kegiatan sosial
yang mereka lakukan di lingkungan tinggal akan menerbitkan apresiasi dari
anggota masyarakat lainnya. Apresiasi akan menular, menerbitkan kebajikan yang
terpancar ke pelosok di lingkungan tersebut. Dalam lingkungan yang baik maka
kepedulian dan mekanisme sosial akan bekerja. Ketika hajatan,
berbondong-bondong tetangga datang membantu. Ketika ada warga yang sakit, para
tetangga menengok dan membantu materiil dan immaterial. Maka kerap beredar list bantuan (kartu kawan) ketika yang
sakit dari kalangan tak berpunya. Ketika ada kematian, maka warga bersepakat
mengurus jenazah secara bersama-sama. Itulah lingkungan yang hidup dari
kegotong-royongan (amal jama’i) yang tidak mementingkan diri sendiri.
Duplikasi
Kebaikan
Ormas hanyalah
meneruskan kebaikan bersama yang sudah berjalan di masyarakat. Dalam ormas
hanya lebih terarah dan mempunyai sistem yang rapi. Dengan demikian, ormas
menjadi wadah gerak kebaikan yang lebih kompak. Jadwal kajian keagamaan menjadi
lebih rapi, materinya beragam sesuai kebutuhan ummat karena dimusyawarahkan
pengurus lebih dahulu, pengaturan acara lebih tertata, dokumentasi ada dalam
bentuk jurnal dan foto. Kerja dalam organisasi melibatkan banyak orang, lebih
padu karena punya tujuan bersama dan saling bantu. Karena kebaikan yang
dikerjakan secara bersama-sama menciptakan kemuliaan dan kesejahteraan.
Dan, masih dalam upaya memahami
langkah niagawati yang terhimpun dalam Salimah, melempar ingatan saya pada
kerja serupa dari Sarikat Islam (SI) di masa lalu. SI lahir dari keprihatinan
pedagang lokal pasar Klewer terhadap dominasi pedagang asing yang nota bene
berkarib dengan penjajah di masa itu. SI
lahir di Solo yang dipelopori oleh H. Samanhudi pada 1903. Mulanya hanyalah
persatuan para pedagang. Pada perkembangannya SI yang kemudian berubah nama
menjadi Sarikat Dagang Islam yang juga memasukan unsur politik dan kebangsaan
sebagai landasan geraknya. Kongres SDI yang dilaksanakan pada 2 januari 1913
memilih Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai pucuk pimpinannya dan H.
Samanhudi duduk sebagai Tokoh Senior SDI.
Secara Rinci tujuan SDI
adalah Pertama, mengembangkan jiwa dagang dan membantu anggota-anggota yang
mengalami kesulitan dalam berusaha. Kedua, memperbaiki pendapat-pendapat yang
keliru mengenai Islam. Dan, ketiga, hidup
menurut perintah agama. Dalam perannya kemudian SDI menerbitkan kepedulian di
kalangan pedagang untuk “melek politik”. Bersama-sama, bahu membahu dengan
elemen bangsa berjuang dalam perbaikan kehidupan bangsa hingga melahirkan kemerdekaan
Republik Indonesia.
Agama adalah spirit pergerakan
dalam SDI yang juga menjadi spirit beberapa ormas bernuansa religi. Di
pergerakan perempuan Islam dikenal Aisiyah (Muhammadiyah), Muslimah NU (NU)
mereka hadiri mendahului Salimah. Visi Salimah adalah Peduli pada perempuan,
anak dan keluarga Indonesia. Ormas kemudian menjadi jalan kebajikan bersama.
Kembali, bersama elemen bangsa lainnya membangun perbaikan, meningkatkan
kualitas masyarakat.
Maka sebagaimana firman
Alloh ta’ala dalah surat Al Baqarah ; 148,” Dan setiap umat mempunyai kiblat
yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di
mana saja kamu berada, pasti Alloh akan mengumpulkan kamu semuanya,
Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Pelantikan adalah
seremonial awal yang menandai titik permulaan. Kerja dan berkarya untuk ummat
menjadi amanah bagi segenap pengurus Salimah, Barakallahu.



