Rabu, 11 Oktober 2017

Pelantikan dan Pembekalan Salimah PD Kotamobagu



Pimpinan Wilayah (PW) Salimah Sulawesi Utara melantik kepengurusan PD Salimah Kotamobagu yang baru. Acara berlangsung selama dua hari pada 7 dan 8 Oktober lalu di villa Tobongon, Kotamobagu.


Terpilih sebagai ketua PD Kotamobagu adalah Ns. Fitriani, S. Kep.  Ketua beserta jajaran pengurus dilantik oleh wakil ketua PW Sulut, Yusra Harun.

Sesi pembekalan berlangsung pada hari kedua dengan menghadirkan ketua PW Sulut, Sulastri Masloman, S.Pd, beberapa pengurus dari departemen PW Sulut. Sulastri menyampaikan ucapan selamat bekerja pada tim pengurus yang baru. “Mudah-mudahan kepengurusan yang baru lebih bersemangat dalam mengambil bagian dakwah dan pemberdayaan perempuan di masyarakat,” harapnya.

Rincian Tugas
Pengarahan dan pembekalan menjadi agenda usai pelantikan.  Hal ini menjadi penting supaya para pengurus mengetahui wilayah dan tugasnya dalam organisasi. Perwakilan departemen Pendidikan dan Dakwah, Rahmawati Machmud mendapat kesempatan pertama berpresentasi di hadapan pengurus PD Kotamobagu.


Poin-poin yang disampaikannya terbilang fresh karena merupakan sosialisasi dari Loknas Salimah yang belum lama berlangsung di Jakarta. Rahmawati menguraikan beberapa program unggulan milik departemen Pendidikan dan Dakwah. Yakni, P2AY, BQS, Sister, Forsil Majelis Taklim, Dauroh Mubalighoh dan Solidaritas Dunia Islam & Kemanusiaan. Ia pun menguraikan beberapa sharing pengalaman dakwah yang diperolehnya saat mengikuti loknas yang menjadi motivasi bersama.

Pemaparan materi yang berikutnya dari Departemen Humas. Hadir dua personelnya yakni Nita Candra dan Partinah Nanik. Keduanya bergantian menjelaskan ruang kerja departemen Humas pada Publikasi, Promosi even, Dokumentasi dan Komunikasi. Presentasi berlanjut dengan tanya jawab.

Menutup pembekalan yakni materi “General Public Speaking” yang disampaikan oleh ketua departemen SDM, Rusmala Panurat. Materi ini menjadi modal keahlian dasar. Karena bersinggungan dengan masyarakat menuntut anggota Salimah memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk tampil di depan umum.

Para peserta tampak antusias menyimak presentasi dan simulasi yang dibawakan dengan apik oleh Rusmala. Pembekalan kemudian diakhiri dengan sesi games dan pembagian hadiah.  

Rabu, 20 September 2017

Aliansi Muslim Sulut Gelar Solidaritas Rohingya



PW Salimah Sulawesi Utara bersama sejumlah ormas Muslim menggelar aksi solidaritas untuk Rohingya. Acara dilaksanakan pada Sabtu 16 September lalu. Aksi yang dimulai dari Mesjid Nurul Yaqin di bilangan Sario Manado.

Massa yang berkumpul berasal dari Relindo (Relawan Indonesia), KAMMI Sulut (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), Yakesma (Yayasan kesehatan Masyarakat), ODOJ Sulut, Yayasan Al Bina, FORMASI, GEMA MATLAUL ANWAR, dan MRI. Aksi dimulai lepas Ashar. Massa yang membawa poster, bendera dan spanduk berjalan menempuh rute Mantos 1, Mega Mall, Zero Point, supermarket Jumbo dan berakhir di Taman Kebangsaan Manado.

Aksi diwarnai dengan orasi dari masing-masing ormas dan penampilan teatrikal dari siswa-siswi Sekolah Islam Terpadu. Dalam orasinya, peserta aksi mengajak masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Manado untuk peduli dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada kelompok etnis Rohingya di Myanmar. Mereka mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari junta militer yang berafiliasi dengan penguasa.

Ketua PW Salimah Sulastri Masloman yang turut serta menyatakan simpatinya. “Duka Rohingya adalah duka kita juga, mari kita bantu dan doakan saudara-saudara kita di sana. Kami bersamamu Rohingya. Semoga Allah ridha pada upaya kita membantu mereka, dan Allah turunkan pertolonganNya,” paparnya. 


Seruan kepedulian juga disuarakan oleh anggota legislatif yang hadir dalam kesempatan tersebut  yakni Amir Liputo dan Syarifuddin Saafa.

Aksi ini mendapat kawalan pengamanan dari kepolisian dan ormas lokal. Masyarakat sepanjang jalur yang dilintasi massa menyambut dengan baik. Partisipasi dana dari masyarakat dikumpulkan dalam kotak infak.

Bentuk kepedulian dari umat muslim Sulawesi Utara masih berlanjut pada acara Dzikir Akbar yang berlangsung di lapangan Tikala Manado selepas Isya.

Aliansi Muslim Sulut Gelar Solidaritas Rohingya



PW Salimah Sulawesi Utara bersama sejumlah ormas Muslim menggelar aksi solidaritas untuk Rohingya. Acara dilaksanakan pada Sabtu 16 September lalu. Aksi yang dimulai dari Mesjid Nurul Yaqin di bilangan Sario Manado.

Massa yang berkumpul berasal dari Relindo (Relawan Indonesia), KAMMI Sulut (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), Yakesma (Yayasan kesehatan Masyarakat), ODOJ Sulut, Yayasan Al Bina, FORMASI, GEMA MATLAUL ANWAR, dan MRI. Aksi dimulai lepas Ashar. Massa yang membawa poster, bendera dan spanduk berjalan menempuh rute Mantos 1, Mega Mall, Zero Point, supermarket Jumbo dan berakhir di Taman Kebangsaan Manado.

Aksi diwarnai dengan orasi dari masing-masing ormas dan penampilan teatrikal dari siswa-siswi Sekolah Islam Terpadu. Dalam orasinya, peserta aksi mengajak masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Manado untuk peduli dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada kelompok etnis Rohingya di Myanmar. Mereka mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari junta militer yang berafiliasi dengan penguasa.

Ketua PW Salimah Sulastri Masloman yang turut serta menyatakan simpatinya. “Duka Rohingya adalah duka kita juga, mari kita bantu dan doakan saudara-saudara kita di sana. Kami bersamamu Rohingya. Semoga Allah ridha pada upaya kita membantu mereka, dan Allah turunkan pertolonganNya,” paparnya. 


Seruan kepedulian juga disuarakan oleh anggota legislatif yang hadir dalam kesempatan tersebut  yakni Amir Liputo dan Syarifuddin Saafa.

Aksi ini mendapat kawalan pengamanan dari kepolisian dan ormas lokal. Masyarakat sepanjang jalur yang dilintasi massa menyambut dengan baik. Partisipasi dana dari masyarakat dikumpulkan dalam kotak infak.

Bentuk kepedulian dari umat muslim Sulawesi Utara masih berlanjut pada acara Dzikir Akbar yang berlangsung di lapangan Tikala Manado selepas Isya.

Minggu, 18 Juni 2017

Semarak Ramadhan bersama Yatim dan Lansia

Ramadhan tahun ini di bumi Nyiur Melambai bertambah semarak dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh PW Salimah Sulawesi Utara. Acara tersebut adalah pemberian santunan anak Yatim dan Lansia. Kegiatan santunan dilaksanakan di mesjid Ijtihad Maasing, Manado pada Ahad 18 Juni lalu. 

Sebanyak 100 paket berisi sirup, gula, teh celup, mie instan, minyak goreng, susu kotak dan kerudung dibagikan kepada Yatim dan Lansia. Bersama dengan paket sembako dibagikan pula paket takjil berupa nasi box dan snack plus bakso in cup yang merupakan donasi dari sejumalah donatur.

Kegiatan santunan ini merupakan agenda P2AY (Program Pembinaan Anak Yatim) yang adalah bagian dari program Departemen Pendidikan dan Dakwah. Tema tahun ini adalah “Menebar Kebaikan di Bulan Berkah, Mengeratkan Persaudaraan”. Drh. Yunina dari Dept Pendidikan dan Dakwah didaulat menjadi ketua panitia acara.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat seperti anggota legislatif H. Amir Liputto, Ketua PKK PKS Risna, Dosen IAIN DR. Musdalifah Dachrud Nadiffah, S.Ag, S.Psi, Msi, Imam Mesjid Ijtihad Ibrahim Bugis. Hadir pula menemani para penerima santunan adalah jamaah mesjid, dan ibu-ibu Majelis Taklim serta pengurus PW Salimah Sulut dan Pengurus PD Manado.

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci dari Hj. Maryam Bakari. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua PW Salimah Sulut Sulastri Masloman, SPd. “Kepedulian Salimah pada anak yatim dan lansia tidak berhenti pada bulan Ramadhan saja. Insya Alloh ada kegiatan untuk anak yatim berupa pembinaan karakter lewat pengajian dan pemantapan pelajaran sekolah. Kegiatan ini akan dilakukan sebulan sekali yang dievaluasi tiap 3 bulan. Semoga dengan ini, anak-anak lebih bersemangat dalam belajar dan mencapai cita-citanya,” jelas Sulastri dalam sambutannya.

Kegembiraan diutarakan oleh ibu Risna dalam sambutannya. “Mudah-mudahan lebih banyak lagi program-program Salimah yang akan dirasakan oleh masyarakat,” harapnya. Ungkapan senada juga terlontar dari Amir Liputo. “Pembinaan anak yatim dan lansia merupakan program yang dibutuhkan masyarakat, tentu akan lebih baik jika dilakukan secara kontinyu,” tandasnya.

Dalam tausiahnya, bunda Musdalifah memberi semangat kepada anak yatim dan orangtuanya. “Bahwa rasulullah sangat mencintai anak yatim, seperti ibarat dekatnya dua jari. Ada banyak keberkahan bagi yang mau memelihara dan menggembirakan anak yatim. Mari kita berusaha menyenangkan anak yatim dengan member makan, hiburan dan ilmu,” paparnya.

Keceriaan anak-anak bertambah dengan adanya doorprize berupa jam tangan bagi yang berani menjawab pertanyaan dari Rusmala Panurat yang bertugas sebagai MC. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Imam Mesjid Ijtihad Ibrahim Bugis.

Sabtu, 20 Mei 2017

Ormas yang Memberdayakan Masyarakat


(tulisan dimuat Tribun Manado, 20 Mei 2017)
Buah tangan dari perjalanan ke Sangihe


Penghujung April lalu, pengurus PW Salimah Sulawesi Utara mendapat undangan untuk hadir di kabupaten Sangihe. Acara yang dihelat oleh PD Sangihe adalah pelantikan pengurus PC Tabukan Utara. Saya dengan rekan di Departemen Humas PW Sulut Nita Candra berkesempatan memenuhi undangan tersebut.

Berangkatlah kami berdua menuju Sangihe menumpang kapal Saint Mary yang bertolak menjelang Isya dari pelabuhan Manado. Melewati dini hari, kapal merapat di pelabuhan Tahuna. Kemudian jemputan kami mengantar hingga masuk desa Petta Barat. Usai beristirahat dan sarapan, kami pun bersiap untuk menyaksikan acara pelantikan.

Kegembiraan terpancar dari ibu-ibu yang hadir dalam acara tersebut. Selain calon pengurus yang akan dilantik, beberapa wajah tak asing adalah pengurus PD Sangihe dan tamu undangan. Mereka adalah ibu-ibu yang rutin mengikuti kajian keagamaan di mesjid setempat. Lebih terkejut saya, ketika mengetahui  pengurus PC Tabukan Utara adalah ibu-ibu senior atau yang sudah menyandang status oma. Semangat yang diperlihatkan mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan keagamaan dalam usia menjelang senja menyuntikan energi. Betapa mereka yang tua, tak hilang daya bahkan bersemangat dalam kebaikan.

Dan, kesempatan berbincang dengan pengurus PD Sangihe lebih menambah kekaguman saya. Beberapa diantaranya adalah para pedagang di pasar lokal. Ada yang berjual bahan sandang, berjualan jamu dan ada juga yang berjualan bakso. Pikiran saya bermain-main dan bertanya, “Untuk apa ya mereka yang sudah sibuk berdagang, repot-repot masuk ormas. Berletih-letih untuk mengerjakan proyek sosial?”   

Kemudian saya teringat akan teori psikolog kondang Abraham Maslow yang menjabarkan kebutuhan dasar manusia. Maslow membagi kebutuhan dalam lima kelompok. Dari yang paling dasar adalah kebutuhan physiologic yakni pada sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan. Kemudian kebutuhan akan safety, bebas dari rasa takut dan merasa aman. Selanjutnya ada kebutuhan love, kasih sayang bisa dari pasangan, teman atau lingkungan. Kemudian ada kebutuhan esteem, penghargaan baik yang tersirat dalam status sosial atau tersurat dalam tampilan piagam, piala, sertifikat. Terakhir adalah kebutuhan self actualization, atau aktualisasi diri, menampilkan diri bukan sebagai individu yang pongah karena sudah sukses. Tapi mature (dewasa) dalam menjalani kehidupan. Pada titik ini, seseorang  menjadi lebih bijak pada sesama, menerima perbedaan secara arif, mau menjadi bagian dari solusi masalah, memiliki pengalaman spiritual yang menjadikannya arif bijaksana.

Ketika memahami ini, maka saya pun mengerti mengapa para niagawati di pasar lokal di sana mau bersusah payah, berepot-repot masuk dalam ormas. Mereka ada pada titik ingin membantu orang lain yang mereka kenal, menghidupkan kegiatan positif di lingkungannya. Posisi kebutuhan mereka ada pada menjaga kasih sayang (love) dari lingkungan dia berada. Baik di lingkungan mencari nafkah dan lingkungan tinggal.

Dari kegiatan sosial yang mereka lakukan di lingkungan tinggal akan menerbitkan apresiasi dari anggota masyarakat lainnya. Apresiasi akan menular, menerbitkan kebajikan yang terpancar ke pelosok di lingkungan tersebut. Dalam lingkungan yang baik maka kepedulian dan mekanisme sosial akan bekerja. Ketika hajatan, berbondong-bondong tetangga datang membantu. Ketika ada warga yang sakit, para tetangga menengok dan membantu materiil dan immaterial. Maka kerap beredar list bantuan (kartu kawan) ketika yang sakit dari kalangan tak berpunya. Ketika ada kematian, maka warga bersepakat mengurus jenazah secara bersama-sama. Itulah lingkungan yang hidup dari kegotong-royongan (amal jama’i) yang tidak mementingkan diri sendiri.   

Duplikasi Kebaikan


Ormas hanyalah meneruskan kebaikan bersama yang sudah berjalan di masyarakat. Dalam ormas hanya lebih terarah dan mempunyai sistem yang rapi. Dengan demikian, ormas menjadi wadah gerak kebaikan yang lebih kompak. Jadwal kajian keagamaan menjadi lebih rapi, materinya beragam sesuai kebutuhan ummat karena dimusyawarahkan pengurus lebih dahulu, pengaturan acara lebih tertata, dokumentasi ada dalam bentuk jurnal dan foto. Kerja dalam organisasi melibatkan banyak orang, lebih padu karena punya tujuan bersama dan saling bantu. Karena kebaikan yang dikerjakan secara bersama-sama menciptakan kemuliaan dan kesejahteraan.

Dan, masih dalam upaya memahami langkah niagawati yang terhimpun dalam Salimah, melempar ingatan saya pada kerja serupa dari Sarikat Islam (SI) di masa lalu. SI lahir dari keprihatinan pedagang lokal pasar Klewer terhadap dominasi pedagang asing yang nota bene berkarib dengan penjajah di masa itu.  SI lahir di Solo yang dipelopori oleh H. Samanhudi pada 1903. Mulanya hanyalah persatuan para pedagang. Pada perkembangannya SI yang kemudian berubah nama menjadi Sarikat Dagang Islam yang juga memasukan unsur politik dan kebangsaan sebagai landasan geraknya. Kongres SDI yang dilaksanakan pada 2 januari 1913 memilih Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai pucuk pimpinannya dan H. Samanhudi duduk sebagai Tokoh Senior SDI.

Secara Rinci tujuan SDI adalah Pertama, mengembangkan jiwa dagang dan membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam berusaha. Kedua, memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai Islam. Dan, ketiga,  hidup menurut perintah agama. Dalam perannya kemudian SDI menerbitkan kepedulian di kalangan pedagang untuk “melek politik”. Bersama-sama, bahu membahu dengan elemen bangsa berjuang dalam perbaikan kehidupan bangsa hingga melahirkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Agama adalah spirit pergerakan dalam SDI yang juga menjadi spirit beberapa ormas bernuansa religi. Di pergerakan perempuan Islam dikenal Aisiyah (Muhammadiyah), Muslimah NU (NU) mereka hadiri mendahului Salimah. Visi Salimah adalah Peduli pada perempuan, anak dan keluarga Indonesia. Ormas kemudian menjadi jalan kebajikan bersama. Kembali, bersama elemen bangsa lainnya membangun perbaikan, meningkatkan kualitas masyarakat.

Maka sebagaimana firman Alloh ta’ala dalah surat Al Baqarah ; 148,” Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Alloh akan mengumpulkan kamu semuanya, Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pelantikan adalah seremonial awal yang menandai titik permulaan. Kerja dan berkarya untuk ummat menjadi amanah bagi segenap pengurus Salimah, Barakallahu.