Oleh : Sulastri
Masloman, S.Pd
Ketua
PW Persaudaraan Muslimah (Salimah) Sulawesi Utara
Hari Ibu hadir menyapa setiap
penghujung tahun. Di Indonesia, hari khusus untuk kaum perempuan ini jatuh pada
22 Desember tiap tahunnya. Dahulu, Para pejuang perempuan asal Sumatera dan Jawa berkumpul di
Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928. Dari sini kemudian lahir Kowani (Kongres
Wanita Indonesia) yang dalam kongres ke-3 menetapkan tanggal 22 Desember
sebagai hari Ibu.
Para pejuang perempuan
daerah ini pun menyatakan pikiran dan semangat yang sama dalam upaya
memperjuangkan kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan Indonesia. Perkembangan teknologi
menyertai kemajuan dan peran wanita dalam berbagai bidang. Mengantar pada era Sosmed
(sosial media) kini. Setelah kehadiran Hotmail dan MSN pada 90’ disusul Yahoo, Friendster,
Blog, Twitter muncul pula Youtube, Facebook, Path, dan Instagram.
Pengguna sosmed meluas
bukan hanya perempuan pekerja, karyawan, professional, praktisi tetapi juga
oleh ibu-ibu rumah tangga. Foto selfie dan
peristiwa di sosmed begitu memikat karena bercerita banyak hal. Foto semasa
sekolah, baju baru teman, jualan murah,
obral perabotan, perhiasan cantik, tempat main yang seru dan banyak lagi
Di sinilah bahaya
sosmed mengintai, dari terlena bermain-main di sosmed, melalaikan waktu dan
tugas. Apalagi sebagai seorang ibu yang harus menyiapakan kebutuhan suami dan
anak-anak. Untuk itulah kita perlu bijak dalam bersosmed.
Bunda
Kreatif dengan Sosmed
Memahami sosmed
bukanlah hal yang terlarang. Sebuah Quote
yang terkenal “didiklah anakmu sesuai zamannya”. Oleh karenanya kewajiban
seorang ibu lah sebagai ummu madrasah untuk
mendidik dan menjaga putra putrinya. Karena ancaman merajalela mulai dari lingkungan
pergaulan yang tidak aman dan sehat, kejahatan, penculikan, narkoba, pelecehan.
Dari sosmed, ibu bisa belajar, mengetahui modus kejahatan dan mengantisipasinya.
Banyak hal positif
dapat diperoleh dari sosmed. Dari berkenalan dengan selebritis dan tokoh.
Mereka yang tak pelit berbagi ilmu dan pengalaman dalam bidangnya. Bagi yang senang
masak pasti tak asing dengan nama Fatmah Bahalwan pendiri NCC (Natural Cooking
Club). Resep dan tips masaknya menyebar secara gratis lewat milis, blog dan
situs kuliner.
Fatmah mulanya adalah
pekerja kantoran yang berpikir mencari pendapatan tambahan saat masih bekerja
paska krisis moneter. Setiap hari, ia bangun lebih cepat untuk dapat membuat
satu hingga dua macam kue untuk dijual saat berkantor. Pelan-pelan penggemar
kuenya mulai memesan karena terpikat oleh rasanya yang nikmat. Pada 2004, ia
memberanikan diri untuk keluar dari tempatnya bekerja dan memulai bisnis
kuliner. Pesanan datang dari rekan kerja untuk acara kantor. Bersamaan dengan
aktifnya milis NCC yang ramai peminat. Belakangan, anggota milis NCC mencapai
18 ribu orang.
Dari dunia maya, milis
NCC bertransformasi menjadi kursus kuliner yang bukan hanya mengajarkan resep.
Tetapi menambahinya dengan skill stylish
food dan food photography.
Imbasnya, lahirlah ratusan pengusaha kuliner dari NCC besutan Fatmah Bahalwan. Petikan
ucapan dari pendiri NCC ini yang paling terkenal adalah, ”Ketika merasa karir
Anda berhenti di tempat, cobalah pergi ke dapur. Barangkali tersembunyi rizki
Alloh di sana”.
Kisah ibu rumah tangga
yang sukses masih ada, datang dari Bekasi, Jawa Barat. Adalah Tri Amelia yang
mendadak terkenal karena bisnis gokil (gosok keliling). Ia menawarkan jasa
setrika keliling dengan setrika uap dari motornya di area komplek perumahannya.
Dari bisnisnya ini, ia dapat meraup pendapatan hingga 9 juta/bulan tanpa duduk
di balik meja kantor. Dan, hasil bulanan Tri Amelia setara dengan pendapatan
manajer produk kosmetika yang selling strategy-nya
mengandalkan katalog, dengan jaringannya dan menggunakan tupo (tutup poin).
Mungkin, bisnis ibu Tri
Amelia terlihat kurang menarik, tanpa blazer, tas mahal, dandanan tebal, style rambut atau hijab, ruang ber-AC,
mesin absensi karyawan, gossip kantor. Tapi, ia mampu mempekerjakan 5 karyawan,
mengelola 240 kg/hari yang harus disetrika dengan tarif Rp. 3.500 – 4000/kg,
memiliki quality time dengan
keluarga, dan memanajemen waktunya sendiri.
Tanpa perlu malu, Tri
Amelia mengajak ibu-ibu menggali potensi untuk membantu perekonomian keluarga.
Ia pun sudah mengalami jatuh bangun dalam usaha laundry. Ia memulai dengan
berkeliling komplek rumah hingga dua bulan tanpa pelanggan. Barulah pada bulan
ketiga ada penghuni komplek yang menggunakan jasanya. Kisah sukses dan
inspiratif tersebar banyak di sosmed.
Menjadi
Ibu Tangguh
Caranya, kembali pada
komitmen menjadi ibu yang membanggakan untuk keluarga. Menjadi orang tua yang
berkewajiban memberikan pemahaman agama,
pendidikkan, pengetahuan, adab kepada anak.
Karena dalam Al Qur’an,
Alloh berpesan supaya kita menyiapakan anak-anak kita menghadapi zamannya. “
Dan hendaklah takut (kepada Alloh) orang-orang yang sekiranya mereka
meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir
terhadap (kesejahterannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada
Alloh, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”. (QS An
Nisa : 9).
Sejalan dengan tema
peringatan hari Ibu yakni “Ibu Cerdas Kokohkan Ekonomi Keluarga”., Salimah
sebagai ormas perempuan bernafaskan Islam berharap perempuan Indonesia dapat
memainkan perannya dalam ruang ekonomi. Melalui beberapa
program unggulan, Salimah turut memajukan perempuan Indonesia. Dalam program pemberdayaan
perempuan diantaranya Sekolah Ibu Salimah Terpadu (Sister), Baitul Qur’an Salimah,
Forum Silaturahim Majelis Taklim (Forsil MT), Pelatihan Kepribadian Muslimah,
Seminar kewanitaan, manajemen waktu, parenting, wawasan keagamaan, dan peluang
ekonomi.
Mari manfaatkan
beberapa program tersebut untuk menjadi perempuan tangguh, alim dan bermanfaat.
Selamat Hari Ibu untuk para ibu di seluruh Indonesia.
(Disarikan dari artikel Hari Ibu, Tribun Manado 22-23 Desember 2016)
