Jumat, 23 Desember 2016

Bunda Kreatif di Era Medsos



Oleh : Sulastri Masloman, S.Pd
Ketua PW Persaudaraan Muslimah (Salimah) Sulawesi Utara


Hari Ibu hadir menyapa setiap penghujung tahun. Di Indonesia, hari khusus untuk kaum perempuan ini jatuh pada 22 Desember tiap tahunnya. Dahulu, Para pejuang perempuan asal Sumatera dan Jawa berkumpul di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928. Dari sini kemudian lahir Kowani (Kongres Wanita Indonesia) yang dalam kongres ke-3 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu. 

Para pejuang perempuan daerah ini pun menyatakan pikiran dan semangat yang sama dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan Indonesia. Perkembangan teknologi menyertai kemajuan dan peran wanita dalam berbagai bidang. Mengantar pada era Sosmed (sosial media) kini. Setelah kehadiran Hotmail dan MSN pada 90’ disusul Yahoo, Friendster, Blog, Twitter muncul pula Youtube, Facebook, Path, dan Instagram.

Pengguna sosmed meluas bukan hanya perempuan pekerja, karyawan, professional, praktisi tetapi juga oleh ibu-ibu rumah tangga.  Foto selfie dan peristiwa di sosmed begitu memikat karena bercerita banyak hal. Foto semasa sekolah,  baju baru teman, jualan murah, obral perabotan, perhiasan cantik, tempat main yang seru dan banyak lagi

Di sinilah bahaya sosmed mengintai, dari terlena bermain-main di sosmed, melalaikan waktu dan tugas. Apalagi sebagai seorang ibu yang harus menyiapakan kebutuhan suami dan anak-anak. Untuk itulah kita perlu bijak dalam bersosmed.

Bunda Kreatif dengan Sosmed
Memahami sosmed bukanlah hal yang terlarang. Sebuah Quote yang terkenal “didiklah anakmu sesuai zamannya”. Oleh karenanya kewajiban seorang ibu lah sebagai ummu madrasah untuk mendidik dan menjaga putra putrinya. Karena ancaman merajalela mulai dari lingkungan pergaulan yang tidak aman dan sehat, kejahatan, penculikan, narkoba, pelecehan. Dari sosmed, ibu bisa belajar, mengetahui modus kejahatan dan mengantisipasinya. 

Banyak hal positif dapat diperoleh dari sosmed. Dari berkenalan dengan selebritis dan tokoh. Mereka yang tak pelit berbagi ilmu dan pengalaman dalam bidangnya. Bagi yang senang masak pasti tak asing dengan nama Fatmah Bahalwan pendiri NCC (Natural Cooking Club). Resep dan tips masaknya menyebar secara gratis lewat milis, blog dan situs kuliner. 

Fatmah mulanya adalah pekerja kantoran yang berpikir mencari pendapatan tambahan saat masih bekerja paska krisis moneter. Setiap hari, ia bangun lebih cepat untuk dapat membuat satu hingga dua macam kue untuk dijual saat berkantor. Pelan-pelan penggemar kuenya mulai memesan karena terpikat oleh rasanya yang nikmat. Pada 2004, ia memberanikan diri untuk keluar dari tempatnya bekerja dan memulai bisnis kuliner. Pesanan datang dari rekan kerja untuk acara kantor. Bersamaan dengan aktifnya milis NCC yang ramai peminat. Belakangan, anggota milis NCC mencapai 18 ribu orang. 

Dari dunia maya, milis NCC bertransformasi menjadi kursus kuliner yang bukan hanya mengajarkan resep. Tetapi menambahinya dengan skill stylish food dan food photography. Imbasnya, lahirlah ratusan pengusaha kuliner dari NCC besutan Fatmah Bahalwan. Petikan ucapan dari pendiri NCC ini yang paling terkenal adalah, ”Ketika merasa karir Anda berhenti di tempat, cobalah pergi ke dapur. Barangkali tersembunyi rizki Alloh di sana”.

Kisah ibu rumah tangga yang sukses masih ada, datang dari Bekasi, Jawa Barat. Adalah Tri Amelia yang mendadak terkenal karena bisnis gokil (gosok keliling). Ia menawarkan jasa setrika keliling dengan setrika uap dari motornya di area komplek perumahannya. Dari bisnisnya ini, ia dapat meraup pendapatan hingga 9 juta/bulan tanpa duduk di balik meja kantor. Dan, hasil bulanan Tri Amelia setara dengan pendapatan manajer produk kosmetika yang selling strategy-nya mengandalkan katalog, dengan jaringannya dan menggunakan tupo (tutup poin).

Mungkin, bisnis ibu Tri Amelia terlihat kurang menarik, tanpa blazer, tas mahal, dandanan  tebal, style rambut atau hijab, ruang ber-AC, mesin absensi karyawan, gossip kantor. Tapi, ia mampu mempekerjakan 5 karyawan, mengelola 240 kg/hari yang harus disetrika dengan tarif Rp. 3.500 – 4000/kg, memiliki quality time dengan keluarga, dan memanajemen waktunya sendiri. 

Tanpa perlu malu, Tri Amelia mengajak ibu-ibu menggali potensi untuk membantu perekonomian keluarga. Ia pun sudah mengalami jatuh bangun dalam usaha laundry. Ia memulai dengan berkeliling komplek rumah hingga dua bulan tanpa pelanggan. Barulah pada bulan ketiga ada penghuni komplek yang menggunakan jasanya. Kisah sukses dan inspiratif tersebar banyak di sosmed. 

Menjadi Ibu Tangguh

Caranya, kembali pada komitmen menjadi ibu yang membanggakan untuk keluarga. Menjadi orang tua yang berkewajiban memberikan pemahaman agama,  pendidikkan, pengetahuan, adab kepada anak.

Karena dalam Al Qur’an, Alloh berpesan supaya kita menyiapakan anak-anak kita menghadapi zamannya. “ Dan hendaklah takut (kepada Alloh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahterannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”. (QS An Nisa : 9).  

Sejalan dengan tema peringatan hari Ibu yakni “Ibu Cerdas Kokohkan Ekonomi Keluarga”., Salimah sebagai ormas perempuan bernafaskan Islam berharap perempuan Indonesia dapat memainkan perannya dalam ruang ekonomi. Melalui beberapa program unggulan, Salimah turut memajukan perempuan Indonesia. Dalam program pemberdayaan perempuan diantaranya Sekolah Ibu Salimah Terpadu (Sister), Baitul Qur’an Salimah, Forum Silaturahim Majelis Taklim (Forsil MT), Pelatihan Kepribadian Muslimah, Seminar kewanitaan, manajemen waktu, parenting, wawasan keagamaan, dan peluang ekonomi.

Mari manfaatkan beberapa program tersebut untuk menjadi perempuan tangguh, alim dan bermanfaat. Selamat Hari Ibu untuk para ibu di seluruh Indonesia.

(Disarikan dari artikel Hari Ibu, Tribun Manado 22-23 Desember 2016)